JAKARTA (14/2)
Di mana Hosni Mubarak? Setelah mundur sebagai presiden Mesir pada Jumat pekan lalu, 11 Februari 2011, Mubarak diam-diam menghilang di balik panggung politik. Dia seolah lenyap.
Pertanyaan itu muncul saat seruan mengadili Mubarak kian gencar. Dia dianggap bertanggungjawab atas maraknya korupsi, dan pembunuhan para aktivis selama 30 tahun memerintah Mesir.
Aktivis lembaga Amnesty International di Jerman, Monika Lueke, siap menuntut Mubarak ke pengadilan bila dia datang ke negaranya. "Mubarak mewakili suatu sistem yang membuat banyak orang jadi korban penyiksaan, dan penganiayaan selama bertahun-tahun," kata Lueke seperti dikutip laman berita sify news.
Komisi HAM Parlemen Iran bahkan meminta Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengadili Mubarak. "Komisi HAM menyerukan PBB membentuk tim pencari fakta menyelidiki tindak kriminal Presiden Mesir yang tersingkir itu, dan membawanya ke pengadilan internasional yang adil," demikian pernyataan Komisi HAM Iran seperti dikutip stasiun berita State TV.
Mubarak tampak mengikuti jejak sejawatnya dari Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali. Setelah lunglai menghadapi revolusi dari rakyatnya pada 14 Januari lalu, Ben Ali mengundurkan diri dan, bersama keluarganya, diam-diam kabur dari istana presiden, yang telah dia huni selama lebih dari 23 tahun.
Ben Ali kemudian pergi mengungsi ke Arab Saudi. Tadinya dia ingin ke Prancis, tapi ditolak pemerintah setempat. Hingga kini belum ada cerita dari Ben Ali, meski pemerintahan sementara Tunisia mengeluarkan perintah penangkapan dirinya. Ben Ali diduga telah menggangsir banyak harta negara selama berkuasa.
Kisah Mubarak pun hampir mirip. Sejak diberitakan meninggalkan Istana Presiden di Kairo, Mubarak tak lagi terlihat. Bermacam spekulasi muncul. Apakah dia masih di Mesir, atau sudah ke luar negeri. Apakah lelaki dengan usia 82 tahun itu masih sehat, atau kesehatannya memburuk.
Kalangan pejabat Amerika Serikat (AS) percaya klaim dari kolega-kolega mereka di Mesir, bahwa Mubarak saat ini, tak kabur ke luar negeri. Dia ditengarai berada di Sharm El Sheikh. Berjarak sekitar 510 kilometer dari Kairo, kota itu menjadi tetirahan favorit bagi Mubarak.
Menurut harian The Washington Post, selama lima tahun terakhir, Mubarak pasti ke kota ini untuk bersantai selama satu dua hari setiap pekan. Kadang, dia bisa lebih lama dari itu.
Tak seperti Kairo yang padat penduduk, Sharm el-Sheik hanya dihuni 35.000 jiwa. Bila menggunakan transportasi darat, seperti bus, perjalanan dari Kairo ke Sharm antara 6-8 jam, sedangkan bila dengan menggunakan pesawat hanya memerlukan waktu sekitar satu jam.
Wilayah pesisir yang menghadap Laut Merah itu berjuluk “Kota Perdamaian” karena sering menjadi tuan rumah konferensi perdamaian. Bahkan Mubarak pernah mengadakan pertemuan negara-negara Timur Tengah di rumah peristirahatannya di Sharm El Sheikh.
Dulunya, kota ini dikuasai oleh Israel usai Perang Enam Hari pada 1967. Pasca perundingan damai Mesir-Israel 1979, Sharm El Sheikh beserta kota-kota lain di Semenanjung Sinai kembali ke pangkuan Mesir.
Tempat ini kini dipenuhi oleh hotel berbintang lima, dan aneka paket pariwisata diantaranya menyelam di Laut Merah. Namun, pasca demonstrasi yang berhasil menggulingkan Mubarak, daerah ini sepi turis dan terlihat terabaikan.
Hotel-hotel kosong penyewa, jalanan sepi mobil, dan toko-toko banyak yang tutup. Beberapa hotel bahkan menawarkan diskon gila-gilaan untuk memancing tamu. Tak seperti di Kairo, di Sharm el-Sheik, warga memuja Mubarak, dan menyatakan sedih Mubarak turun.
Melansir dari laman The Guardian, sepanjang jalan menuju rumah peristirahatan tepi Laut Merah milik Mubarak ditanami pohon palem indah. Sejumlah warga lokal mengungkapkan bahwa Mubarak bisa menginap di suatu hotel mewah, dan bermain golf dengan leluasa di lapangan milik sahabatnya, Hussein Salem.
Rumah peristirahatannya bukan yang terbesar di daerah itu. Tapi tentunya yang teraman, dengan puluhan penjaga, dan anjing pelacak yang bersiaga 24 jam setiap harinya. Kesiagaan para penjaga itu kadang menjadi penanda apakah Mubarak berada di tempat atau tidak. Jika terlihat ratusan tentara berjaga di sepanjang jalan, maka bisa dipastikan Mubarak tengah beristirahat di sana.
RASKY NEWS
Kamis, 03 Maret 2011
Berita Kriminal 2 (Soal Pemukulan, Dhani-Global TV ke Dewan Pers)
JAKARTA (1/3)
Kasus pengeroyokan yang dialami dua awak Global TV di depan rumah Ahmad Dhani dilimpahkan Kepolisian Sektor Kebayoran Lama ke Kepolisian Resor Jakarta Selatan. Sementara itu, Ahmad Dhani berkukuh tak bersalah dan meminta Dewan Pers memutuskan soal kasus ini.
Pemimpin Redaksi Global TV Siane Indriani menyatakan, dalam pertemuan dengan Dhani di Mapolsek, kedua pihak bersepakat kasus ini juga akan diajukan ke Dewan Pers. "Kami akan mengajukan ke Dewan Pers karena ada perbedaan versi," kata Siane ditemui di Mapolsek Kebayoran Lama, Selasa 1 Maret 2011 dini hari.
"Dhani mengatakan, itu daerahnya dia. Dia tak tahu tindakan mengambil kamera itu salah. Biar Dewan Pers yang menentukan. Paling tidak kami sudah membuka dialog dengan Dhani. Makanya kami melaporkan ke Dewan pers. Kemungkinan besok," kata Siane.
Dhani sendiri, kata Siane, dalam pertemuan itu menyatakan 'Kalau saya salah, biar Dewan Pers yang menentukan saya salah.' "Intinya kami berdua sepakat ke Dewan Pers," kata Siane.
Sementara itu, saat keluar dari ruangan reserse kriminal Polsek Kebayoran Lama, Dhani tak mau berkomentar apa-apa. Dia langsung melangkah ke mobil Alphard berwarna silvernya. Dia terburu-buru masuk mobil, duduk di samping sopir. Mobil itu lalu melaju meninggalkan Mapolsek.
Sebelumnya, saat Siane dan Dhani bertemu di lantai dua Mapolsek itu, sempat kedengaran nada tinggi di dalam ruangan yang diduga dari Dhani.
Sebelumnya, pada pukul 21.30, dua awak Global TV, Noviyandi Kurniawan dan Syahriani, membuat laporan ke polisi telah dianiaya sejumlah pemuda di depan rumah Mulan Jameela yang berseberangan dengan rumah Dhani di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Yandi yang memegang kamera mengaku hendak dirampas kameranya oleh sejumlah pemuda setelah mengabadikan mobil yang ditumpangi Dhani memasuki halaman rumah Mulan. Baju Yandi kemudian sobek dan badannya lebam-lebam karena mempertahankan kameranya itu.
Setelah diambil berita acara pemeriksaan di Mapolsek, Yandi kemudian diberi surat pengantar visum oleh Polsek Kebayoran Lama. Di surat itu, ditulis Yandi merupakan korban pengeroyokan sebagaimana diatur Pasal 170 Kitab Undang-undang Hukum Pidana.
Syahriani, rekan Yandi, yang menjadi reporter, menyatakan Dhani juga berperan dalam peristiwa itu karena mencoba merampas telepon genggamnya. Belakangan telepon dikembalikan, namun Dhani, kata Syahriani, menyandera kunci mobil Global TV.
Kasus pengeroyokan yang dialami dua awak Global TV di depan rumah Ahmad Dhani dilimpahkan Kepolisian Sektor Kebayoran Lama ke Kepolisian Resor Jakarta Selatan. Sementara itu, Ahmad Dhani berkukuh tak bersalah dan meminta Dewan Pers memutuskan soal kasus ini.
Pemimpin Redaksi Global TV Siane Indriani menyatakan, dalam pertemuan dengan Dhani di Mapolsek, kedua pihak bersepakat kasus ini juga akan diajukan ke Dewan Pers. "Kami akan mengajukan ke Dewan Pers karena ada perbedaan versi," kata Siane ditemui di Mapolsek Kebayoran Lama, Selasa 1 Maret 2011 dini hari.
"Dhani mengatakan, itu daerahnya dia. Dia tak tahu tindakan mengambil kamera itu salah. Biar Dewan Pers yang menentukan. Paling tidak kami sudah membuka dialog dengan Dhani. Makanya kami melaporkan ke Dewan pers. Kemungkinan besok," kata Siane.
Dhani sendiri, kata Siane, dalam pertemuan itu menyatakan 'Kalau saya salah, biar Dewan Pers yang menentukan saya salah.' "Intinya kami berdua sepakat ke Dewan Pers," kata Siane.
Sementara itu, saat keluar dari ruangan reserse kriminal Polsek Kebayoran Lama, Dhani tak mau berkomentar apa-apa. Dia langsung melangkah ke mobil Alphard berwarna silvernya. Dia terburu-buru masuk mobil, duduk di samping sopir. Mobil itu lalu melaju meninggalkan Mapolsek.
Sebelumnya, saat Siane dan Dhani bertemu di lantai dua Mapolsek itu, sempat kedengaran nada tinggi di dalam ruangan yang diduga dari Dhani.
Sebelumnya, pada pukul 21.30, dua awak Global TV, Noviyandi Kurniawan dan Syahriani, membuat laporan ke polisi telah dianiaya sejumlah pemuda di depan rumah Mulan Jameela yang berseberangan dengan rumah Dhani di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Yandi yang memegang kamera mengaku hendak dirampas kameranya oleh sejumlah pemuda setelah mengabadikan mobil yang ditumpangi Dhani memasuki halaman rumah Mulan. Baju Yandi kemudian sobek dan badannya lebam-lebam karena mempertahankan kameranya itu.
Setelah diambil berita acara pemeriksaan di Mapolsek, Yandi kemudian diberi surat pengantar visum oleh Polsek Kebayoran Lama. Di surat itu, ditulis Yandi merupakan korban pengeroyokan sebagaimana diatur Pasal 170 Kitab Undang-undang Hukum Pidana.
Syahriani, rekan Yandi, yang menjadi reporter, menyatakan Dhani juga berperan dalam peristiwa itu karena mencoba merampas telepon genggamnya. Belakangan telepon dikembalikan, namun Dhani, kata Syahriani, menyandera kunci mobil Global TV.
Berita Kriminal 3 (Curanmor Beraksi Lepas Maghrib)
JAKARTA (25/2)
Pencurian motor di Jakarta kian meningkat. Maling motor ini paling sering beraksi mulai pukul 18.00 WIB-06.00 WIB atau selepas maghrib hingga pagi hari.
"Pencurian kendaraan bermotor rata-rata terjadi mulai pukul 18.00 WIB sampai dini hari," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Baharudin Djafar kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Kamis (24/2/2011).
Data Biro Operasi Polda Metro Jaya pada tahun 2010, pencurian motor terjadi sebanyak 9.112 kasus. Dari angka tersebut, 2.030 kasus terjadi pada pukul 03.00-06.00 WIB.
Pada pukul 24.00-03.00 dini hari, pencurian motor terjadi 1.406 kasus. Kemudian pada pukul 21.00-24.00 malam, pencurian motor mencapai 1.229 kasus.
Sedangkan pada pukul 18.00-21.00 malam, pencurian terjadi sebanyak 1.727 kasus. Pada sore hari dan pagi hari, pencurian motor juga terjadi.
"Tapi tidak sesering seperti pukul 18.00-06.00 WIB," katanya.
Jam kerawanan juga terpetakan sama pada pencurian mobil. Di mana 487 kasus dari 1.598 kasus pencurian mobil terjadi paling banyak pada pukul 03.00-06.00 WIB.
Pada pukul 24.00-03.00 WIB, pencurian mobil terjadi sebanyak 342 kasus. Kemudian pada pukul 21.00-24.00 WIB, pencurian mobil terjadi sebanyak 182 kasus.
Untuk mengantisipasi pencurian kendaraan bermotor, polisi rutin melakukan patroli di masing-masing wilayah per Polsek. "Patroli ini rutin kita lakukan," ucap Baharuddin.
Polisi juga dibantu oleh Babinkamtibmas dalam mengontrol situasi keamanan penduduk pada malam hari.
"Kita juga mengedepankan Hansip, Siskamling untuk membantu mengawasi keamanan perumahan," terangnya.
Polda Metro juga mengimbau kepada para pengendara untuk memberikan pengamanan ganda pada kendaraannya, disamping kunci kontak.
"Untuk motor, bisa dipasang lagi kunci pada cakram. Kalau mobil, dikunci stirnya," sarannya.
Pencurian motor di Jakarta kian meningkat. Maling motor ini paling sering beraksi mulai pukul 18.00 WIB-06.00 WIB atau selepas maghrib hingga pagi hari.
"Pencurian kendaraan bermotor rata-rata terjadi mulai pukul 18.00 WIB sampai dini hari," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Baharudin Djafar kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Kamis (24/2/2011).
Data Biro Operasi Polda Metro Jaya pada tahun 2010, pencurian motor terjadi sebanyak 9.112 kasus. Dari angka tersebut, 2.030 kasus terjadi pada pukul 03.00-06.00 WIB.
Pada pukul 24.00-03.00 dini hari, pencurian motor terjadi 1.406 kasus. Kemudian pada pukul 21.00-24.00 malam, pencurian motor mencapai 1.229 kasus.
Sedangkan pada pukul 18.00-21.00 malam, pencurian terjadi sebanyak 1.727 kasus. Pada sore hari dan pagi hari, pencurian motor juga terjadi.
"Tapi tidak sesering seperti pukul 18.00-06.00 WIB," katanya.
Jam kerawanan juga terpetakan sama pada pencurian mobil. Di mana 487 kasus dari 1.598 kasus pencurian mobil terjadi paling banyak pada pukul 03.00-06.00 WIB.
Pada pukul 24.00-03.00 WIB, pencurian mobil terjadi sebanyak 342 kasus. Kemudian pada pukul 21.00-24.00 WIB, pencurian mobil terjadi sebanyak 182 kasus.
Untuk mengantisipasi pencurian kendaraan bermotor, polisi rutin melakukan patroli di masing-masing wilayah per Polsek. "Patroli ini rutin kita lakukan," ucap Baharuddin.
Polisi juga dibantu oleh Babinkamtibmas dalam mengontrol situasi keamanan penduduk pada malam hari.
"Kita juga mengedepankan Hansip, Siskamling untuk membantu mengawasi keamanan perumahan," terangnya.
Polda Metro juga mengimbau kepada para pengendara untuk memberikan pengamanan ganda pada kendaraannya, disamping kunci kontak.
"Untuk motor, bisa dipasang lagi kunci pada cakram. Kalau mobil, dikunci stirnya," sarannya.
Berita Budaya 1 (Setelah Mesir, Kini Giliran Aljazair)
JAKARTA (14/2)
Ketua Liga untuk Mempertahankan Hak Azasi Manusia, Ali Yahia Abdenour, seperti dikutip dari Gulf News, mengatakan di antara mereka yang ditahan terdapat sejumlah wartawan asing.
Para pemrotes itu menuntut perubahan demokratis, dan bentrok dengan polisi pada Sabtu 12 Februari kemarin. Mereka meminta Presiden Abdul Aziz Bouteflika turun.
Partai oposisi mengatakan para demonstran telah membuat satu titik balik penting bagi negeri itu. Mereka berani menabrak larangan aksi massa yang selama ini diatur oleh Undang-Undang Darurat. Aljazair telah dicengkeram aturan itu sejak 1992. Tapi kali ini larangan yang berulangkali diteriakkan rezim itu seakan tak didengar rakyat.
“Demonstrasi ini berhasil karena telah sepuluh tahun rakyat tak bisa menggelar aksi massa di Aljazair, dan itu menjadi halangan mental,” ujar Ali Rachedi, bekas pemimpin Front Partai Kekuatan Sosialis. “Rasa takut telah lenyap”.
Para penggerak aksi itu mengatakan sekitar 26.000 polisi anti huru hara diturunkan untuk membubarkan aksi massa pada Sabtu lalu. Tapi, sekitar 10.000 orang berhasil menerobos rintangan polisi. Mereka menyelinap, dan melompat barikade, lalu berkumpul di pusat kota sebelum aksi protes dimulai. Para pejabat Aljazair mengatakan jumlah pemrotes hanya 1.500 orang.
Pemimpin aksi Rally untuk Budaya dan Demokasi, Said Sadi, mengatakan jumlah polisi yang diterjunkan rezim Aljazair untuk menghalangi aksi mereka adalah bukti ketakutan penguasa. “Kami akan melanjutkan demonstrasi, dan terus melawan penguasa sampai mereka tumbang,” ujar Sadi.
Fadil Bamaleh, Sekretaris Jenderal Koordinasi untuk Perubahan Demokratik di Aljazair (CDCA) mengatakan kepada Gulf News larangan demonstrasi di Aljazair yang diterapkan selama dua pekan lalu oleh rezim adalah ilegal. Organisasinya akan mengacuhkan larangan itu.
Bamaleh mengatakan ribuan demonstran dari sekujur negeri itu datang ke Lapangan 1 Mei. Mereka menunjukkan kepada penguasa jika rakyat Aljazair tak lagi bisa menerima larangan yang mengekang kebebasan dan hak berekspresi.
Bamaleh mengatakan sekitar 18 organisasi non-pemerintah terdiri dari wakil pemuda, aktivis HAM, keluarga tahanan politik serta orang hilang, telah membentuk grup di Facebook untuk menuntut perubahan rezim di Aljazair.
"Pembentukan grup semacam itu sebelumnya telah menumbangkan rezim dikattor di Tunisia dan Mesir. Perkembangan yang berani di kedua negara Arab itu, betapapun, punya dampak positif kepada anggota grup. Kami berniat tak akan menghentikan aksi protes di sekujur negeri, sebelum rezim ini jatuh,” ujarnya.
Bamaleh mengatakan, selaku presiden, Bouteflika telah gagal menjalankan demokrasi dan mendorong pembangunan ekonomi dan sosial yang sangat mendesak di negara itu.
Demonstrasi di Aljazair itu berlangsung sehari setelah rakyat Mesir merayakan mundurnya Presiden Housni Mubarak. Menurut harian The New York Times, para demonstran di Lapangan 1 Mei kompak berteriak, "Bouteflika mundur!". Para demonstran juga berteriak, "Kemarin Mesir, Hari Ini Aljazair."
Ketua Liga untuk Mempertahankan Hak Azasi Manusia, Ali Yahia Abdenour, seperti dikutip dari Gulf News, mengatakan di antara mereka yang ditahan terdapat sejumlah wartawan asing.
Para pemrotes itu menuntut perubahan demokratis, dan bentrok dengan polisi pada Sabtu 12 Februari kemarin. Mereka meminta Presiden Abdul Aziz Bouteflika turun.
Partai oposisi mengatakan para demonstran telah membuat satu titik balik penting bagi negeri itu. Mereka berani menabrak larangan aksi massa yang selama ini diatur oleh Undang-Undang Darurat. Aljazair telah dicengkeram aturan itu sejak 1992. Tapi kali ini larangan yang berulangkali diteriakkan rezim itu seakan tak didengar rakyat.
“Demonstrasi ini berhasil karena telah sepuluh tahun rakyat tak bisa menggelar aksi massa di Aljazair, dan itu menjadi halangan mental,” ujar Ali Rachedi, bekas pemimpin Front Partai Kekuatan Sosialis. “Rasa takut telah lenyap”.
Para penggerak aksi itu mengatakan sekitar 26.000 polisi anti huru hara diturunkan untuk membubarkan aksi massa pada Sabtu lalu. Tapi, sekitar 10.000 orang berhasil menerobos rintangan polisi. Mereka menyelinap, dan melompat barikade, lalu berkumpul di pusat kota sebelum aksi protes dimulai. Para pejabat Aljazair mengatakan jumlah pemrotes hanya 1.500 orang.
Pemimpin aksi Rally untuk Budaya dan Demokasi, Said Sadi, mengatakan jumlah polisi yang diterjunkan rezim Aljazair untuk menghalangi aksi mereka adalah bukti ketakutan penguasa. “Kami akan melanjutkan demonstrasi, dan terus melawan penguasa sampai mereka tumbang,” ujar Sadi.
Fadil Bamaleh, Sekretaris Jenderal Koordinasi untuk Perubahan Demokratik di Aljazair (CDCA) mengatakan kepada Gulf News larangan demonstrasi di Aljazair yang diterapkan selama dua pekan lalu oleh rezim adalah ilegal. Organisasinya akan mengacuhkan larangan itu.
Bamaleh mengatakan ribuan demonstran dari sekujur negeri itu datang ke Lapangan 1 Mei. Mereka menunjukkan kepada penguasa jika rakyat Aljazair tak lagi bisa menerima larangan yang mengekang kebebasan dan hak berekspresi.
Bamaleh mengatakan sekitar 18 organisasi non-pemerintah terdiri dari wakil pemuda, aktivis HAM, keluarga tahanan politik serta orang hilang, telah membentuk grup di Facebook untuk menuntut perubahan rezim di Aljazair.
"Pembentukan grup semacam itu sebelumnya telah menumbangkan rezim dikattor di Tunisia dan Mesir. Perkembangan yang berani di kedua negara Arab itu, betapapun, punya dampak positif kepada anggota grup. Kami berniat tak akan menghentikan aksi protes di sekujur negeri, sebelum rezim ini jatuh,” ujarnya.
Bamaleh mengatakan, selaku presiden, Bouteflika telah gagal menjalankan demokrasi dan mendorong pembangunan ekonomi dan sosial yang sangat mendesak di negara itu.
Demonstrasi di Aljazair itu berlangsung sehari setelah rakyat Mesir merayakan mundurnya Presiden Housni Mubarak. Menurut harian The New York Times, para demonstran di Lapangan 1 Mei kompak berteriak, "Bouteflika mundur!". Para demonstran juga berteriak, "Kemarin Mesir, Hari Ini Aljazair."
Berita Budaya 2 (Sejarah Tari Pendet)
BEKASI (1/3)
Tari Pendet termasuk dalam jenis tarian wali, yaitu tarian Bali yang dipentaskan khusus untuk keperluan upacara keagamaan. Tarian ini diciptakan oleh seniman tari Bali, I Nyoman Kaler, pada tahun 1970-an
yang bercerita tentang turunnya Dewi-Dewi kahyangan ke bumi. Meski tarian ini tergolong ke dalam jenis tarian wali namun berbeda dengan tarian upacara lain yang biasanya memerlukan para penari khusus dan terlatih, siapapun bisa menarikan tari Pendet, baik yang sudah terlatih maupun yang masih awam, pemangkus pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa. Pada dasarnya dalam tarian ini para gadis muda hanya mengikuti gerakan penari perempuan senior yang ada di depan mereka, yang mengerti tanggung jawab dalam memberikan contoh yang baik. Tidak memerlukan pelatihan intensif.
Pada awalnya tari Pendet merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di Pura, yang menggambarkan penyambutan atas turunnya Dewa-Dewi ke alam marcapada, merupakan pernyataan persembahan dalam bentuk tarian upacara. Lambat laun, seiring perkembangan zaman, para seniman tari Bali mengubah tari Pendet menjadi tari “Ucapan Selamat Datang”, dilakukan sambil menaburkan bunga di hadapan para tamu yang datang, seperti Aloha di Hawaii. Kendati demikian bukan berarti tari Pendet jadi hilang kesakralannya. Tari Pendet tetap mengandung anasir sakral-religius dengan menyertakan muatan-muatan keagamaan yang kental. Dan tari pendet disepakati lahir pada tahun 1950.
Tari Pendet Sakral
Biasanya Tari Pendet dibawakan secara berkelompok atau berpasangan oleh para putri, dan lebih dinamis dari tari Rejang. Ditampilkan setelah tari Rejang di halaman Pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih). Para penari Pendet berdandan layaknya para penari upacara keagamaan yang sakral lainnya, dengan memakai pakaian upacara, masing-masing penari membawa perlengkapan sesajian persembahan seperti sangku (wadah air suci), kendi, cawan, dan yang lainnya.
Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Wayan Dibia, menegaskan bahwa menarikan tari Pendet sudah sejak lama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Hindu Bali.
Tarian ini merupakan tarian yang dibawakan oleh sekelompok remaja putri, masing-masing membawa mangkuk perak (bokor) yang penuh berisi bunga. Pada akhir tarian para penari menaburkan bunga ke arah penonton sebagai ucapan selamat datang. Tarian ini biasanya ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu atau memulai suatu pertunjukkan (1999: 47).
Pencipta atau koreografer bentuk modern tari Pendet ini adalah I Wayan Rindi (?-1967), merupakan penari yang dikenal luas sebagai penekun seni tari dengan kemampuan menggubah tari dan melestarikan seni tari Bali melalui pembelajaran pada generasi penerusnya. Semasa hidupnya ia aktif mengajarkan beragam tari Bali, termasuk tari Pendet kepada keturunan keluarganya maupun di luar lingkungan keluarganya.
Menurut anak bungsunya, I Ketut Sutapa, I Wayan Rindi memodifikasi Tari Pendet sakral menjadi Tari Pendet penyambutan yang kini diklaim Malaysia sebagai bagian dari budayanya. Keluarga I Wayan Rindi sangat menyesalkan hal ini. Semasa hidupnya I Wayan Rindi tak pernah berpikir untuk mendaftarkan temuannya agar tak ditiru negara lain.
Tari Pendet Penyambutan
Di samping belum ada lembaga hak cipta, tari Bali selama ini tidak pernah dipatenkan karena mengandung nilai spiritual yang luas dan tak bisa dimonopoli sebagai ciptaan manusia atau bangsa tertentu. Dalam hal ini, I Ketut Sutapa, dosen seni tari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali mengharapkan pemerintah mulai bertindak untuk menyelamatkan warisan budaya nasional dari tangan jahil negara lain.
Menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan sejarah seharusnya lebih proporsional dari pendekatan ilmu pengetahuan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual), karena HAKI adalah produk budaya barat yang baru eksis kemudian. HAKI tidak cukup layak mengamankan produk-produk budaya sebelum HAKI didirikan, apa lagi pemanfaatannya lebih berorientasi kolektifitas, bukan individualitas seperti paham budaya barat.
HAKI tidak akan sepenuhnya dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat beradab dan bermartabat. HAKI diarahkan untuk kepentingan ekonomis, sedangkan produk-produk budaya Indonesia lebih berorientasi kepentingan sosial.
Tari Pendet termasuk dalam jenis tarian wali, yaitu tarian Bali yang dipentaskan khusus untuk keperluan upacara keagamaan. Tarian ini diciptakan oleh seniman tari Bali, I Nyoman Kaler, pada tahun 1970-an
yang bercerita tentang turunnya Dewi-Dewi kahyangan ke bumi. Meski tarian ini tergolong ke dalam jenis tarian wali namun berbeda dengan tarian upacara lain yang biasanya memerlukan para penari khusus dan terlatih, siapapun bisa menarikan tari Pendet, baik yang sudah terlatih maupun yang masih awam, pemangkus pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa. Pada dasarnya dalam tarian ini para gadis muda hanya mengikuti gerakan penari perempuan senior yang ada di depan mereka, yang mengerti tanggung jawab dalam memberikan contoh yang baik. Tidak memerlukan pelatihan intensif.
Pada awalnya tari Pendet merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di Pura, yang menggambarkan penyambutan atas turunnya Dewa-Dewi ke alam marcapada, merupakan pernyataan persembahan dalam bentuk tarian upacara. Lambat laun, seiring perkembangan zaman, para seniman tari Bali mengubah tari Pendet menjadi tari “Ucapan Selamat Datang”, dilakukan sambil menaburkan bunga di hadapan para tamu yang datang, seperti Aloha di Hawaii. Kendati demikian bukan berarti tari Pendet jadi hilang kesakralannya. Tari Pendet tetap mengandung anasir sakral-religius dengan menyertakan muatan-muatan keagamaan yang kental. Dan tari pendet disepakati lahir pada tahun 1950.
Tari Pendet Sakral
Biasanya Tari Pendet dibawakan secara berkelompok atau berpasangan oleh para putri, dan lebih dinamis dari tari Rejang. Ditampilkan setelah tari Rejang di halaman Pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih). Para penari Pendet berdandan layaknya para penari upacara keagamaan yang sakral lainnya, dengan memakai pakaian upacara, masing-masing penari membawa perlengkapan sesajian persembahan seperti sangku (wadah air suci), kendi, cawan, dan yang lainnya.
Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Wayan Dibia, menegaskan bahwa menarikan tari Pendet sudah sejak lama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Hindu Bali.
Tarian ini merupakan tarian yang dibawakan oleh sekelompok remaja putri, masing-masing membawa mangkuk perak (bokor) yang penuh berisi bunga. Pada akhir tarian para penari menaburkan bunga ke arah penonton sebagai ucapan selamat datang. Tarian ini biasanya ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu atau memulai suatu pertunjukkan (1999: 47).
Pencipta atau koreografer bentuk modern tari Pendet ini adalah I Wayan Rindi (?-1967), merupakan penari yang dikenal luas sebagai penekun seni tari dengan kemampuan menggubah tari dan melestarikan seni tari Bali melalui pembelajaran pada generasi penerusnya. Semasa hidupnya ia aktif mengajarkan beragam tari Bali, termasuk tari Pendet kepada keturunan keluarganya maupun di luar lingkungan keluarganya.
Menurut anak bungsunya, I Ketut Sutapa, I Wayan Rindi memodifikasi Tari Pendet sakral menjadi Tari Pendet penyambutan yang kini diklaim Malaysia sebagai bagian dari budayanya. Keluarga I Wayan Rindi sangat menyesalkan hal ini. Semasa hidupnya I Wayan Rindi tak pernah berpikir untuk mendaftarkan temuannya agar tak ditiru negara lain.
Tari Pendet Penyambutan
Di samping belum ada lembaga hak cipta, tari Bali selama ini tidak pernah dipatenkan karena mengandung nilai spiritual yang luas dan tak bisa dimonopoli sebagai ciptaan manusia atau bangsa tertentu. Dalam hal ini, I Ketut Sutapa, dosen seni tari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali mengharapkan pemerintah mulai bertindak untuk menyelamatkan warisan budaya nasional dari tangan jahil negara lain.
Menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan sejarah seharusnya lebih proporsional dari pendekatan ilmu pengetahuan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual), karena HAKI adalah produk budaya barat yang baru eksis kemudian. HAKI tidak cukup layak mengamankan produk-produk budaya sebelum HAKI didirikan, apa lagi pemanfaatannya lebih berorientasi kolektifitas, bukan individualitas seperti paham budaya barat.
HAKI tidak akan sepenuhnya dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat beradab dan bermartabat. HAKI diarahkan untuk kepentingan ekonomis, sedangkan produk-produk budaya Indonesia lebih berorientasi kepentingan sosial.
Berita Budaya 3 (Sejarah Pencak Silat JawaBarat)
BEKASI (1/3)
Sejak dulu Cianjur dikenal dengan Seni Bela Diri Pencak Silat yang menghasilkan berbagai aliran terkenal, antara lain aliran Cikalong, Cimande dan Sabandar. Pencipta dan penyebar aliran Pencak Silat Cikalong adalah R. Djajaperbata atau dikenal dengan nama R.H. Ibrahim. Aliran ini mempunyai ciri permainan rasa yaitu sensitivitas atau kepekaan rasa yang mampu membaca segala gerak lawan ketika anggota badan saling bersentuhan dan dapat melumpuhkannya.
Ciri lain adalah ilmu pukulan (ulin peupeuhan-bahasa sunda) yang mengandalkan kecepatan gerak dan tenaga ledak. R.H. Ibrahim meninggal tahun 1906 dimakamkan di pemakaman keluarga Dalem Cikundul, Cikalong Kulon Cianjur. Pada era yang sama, di Cianjur muncul tokoh Pencak Silat bernama Muhammad Kosim di Kampung Sabandar Karang Tengah Cianjur dikenal sebagai Mama Sabandar. Salah satu ciri aliran ini adalah kemahiran dalam mengeluarkan tenaga yang dikenal dengan nama Liliwatan.
Dalam perkembangannya, Pencak Silat Cianjur menghasilkan aliran-aliran baru seperti aliran Cikaret, Bojongherang dan lain-lain. Dalam dunia persilatan, Cianjur banyak menghasilkan tokoh-tokoh antara lain: R. Abah M. Sirod, R. Didi Muhtadi (Gan Didi), R.O. Saleh (Gan Uweh), Abah Aleh, R. Idrus, R. Muhidin dan masih banyak lagi. Sedangkan tokoh Maenpo (Pencak Silat Peupeuhan) antara lain : Rd. H. Ibrahim, H. Toha, Aa Dai, Wa Acep Tarmidi, Abah Salim, Adung Rais dan yang lainnya.
Sejak dulu Cianjur dikenal dengan Seni Bela Diri Pencak Silat yang menghasilkan berbagai aliran terkenal, antara lain aliran Cikalong, Cimande dan Sabandar. Pencipta dan penyebar aliran Pencak Silat Cikalong adalah R. Djajaperbata atau dikenal dengan nama R.H. Ibrahim. Aliran ini mempunyai ciri permainan rasa yaitu sensitivitas atau kepekaan rasa yang mampu membaca segala gerak lawan ketika anggota badan saling bersentuhan dan dapat melumpuhkannya.
Ciri lain adalah ilmu pukulan (ulin peupeuhan-bahasa sunda) yang mengandalkan kecepatan gerak dan tenaga ledak. R.H. Ibrahim meninggal tahun 1906 dimakamkan di pemakaman keluarga Dalem Cikundul, Cikalong Kulon Cianjur. Pada era yang sama, di Cianjur muncul tokoh Pencak Silat bernama Muhammad Kosim di Kampung Sabandar Karang Tengah Cianjur dikenal sebagai Mama Sabandar. Salah satu ciri aliran ini adalah kemahiran dalam mengeluarkan tenaga yang dikenal dengan nama Liliwatan.
Dalam perkembangannya, Pencak Silat Cianjur menghasilkan aliran-aliran baru seperti aliran Cikaret, Bojongherang dan lain-lain. Dalam dunia persilatan, Cianjur banyak menghasilkan tokoh-tokoh antara lain: R. Abah M. Sirod, R. Didi Muhtadi (Gan Didi), R.O. Saleh (Gan Uweh), Abah Aleh, R. Idrus, R. Muhidin dan masih banyak lagi. Sedangkan tokoh Maenpo (Pencak Silat Peupeuhan) antara lain : Rd. H. Ibrahim, H. Toha, Aa Dai, Wa Acep Tarmidi, Abah Salim, Adung Rais dan yang lainnya.
Berita Politik 1 (PPP : Pidato SBY bentuk ketidaknyamanan)
JAKARTA (01/02)
Partai Persatuan Pembangunan atau PPP menyebut apa yang disampaikan oleh Presiden SBY perihal kritiknya terhadap mitra koalisi merupakan bentuk ketidaknyamanan terhadap mitra koalisi yang selalu berbeda sikap dalam berbagai keputusan di legislatif.
Menurut Irghan PPP tidak mau berkomentar lebih jauh, karena sesungguhnya PPP merasakan langkah dan sikap politik tidak melanggar kesepakatan yg ada, tetap taat dan setia mengawal pemerintahan SBY sampai 2014. PPP lanjut Irghan, merasa yakin komentar SBY ini bukan ditujukan kepada PPP. Sedang mengenai tudingan kepada partai lain yang tergabung di sekretariat gabungan, PPP tidak akan mencampuri atau ikut terdorong mengkritisi partai lain yg berbeda pandangan khususnya dg Partai Demokrat dan SBY. "Pidato SBY hendaknya ditangkap sebagai sinyal bhw keutuhan koalisi diperlukan dalam menjaga semangat pemerintahan, karena bagaimanapun partai koalisi telah dilibatkan didalam kabinet pemerintah SBY Boediono," ujarnya.
Partai Persatuan Pembangunan atau PPP menyebut apa yang disampaikan oleh Presiden SBY perihal kritiknya terhadap mitra koalisi merupakan bentuk ketidaknyamanan terhadap mitra koalisi yang selalu berbeda sikap dalam berbagai keputusan di legislatif.
Menurut Irghan PPP tidak mau berkomentar lebih jauh, karena sesungguhnya PPP merasakan langkah dan sikap politik tidak melanggar kesepakatan yg ada, tetap taat dan setia mengawal pemerintahan SBY sampai 2014. PPP lanjut Irghan, merasa yakin komentar SBY ini bukan ditujukan kepada PPP. Sedang mengenai tudingan kepada partai lain yang tergabung di sekretariat gabungan, PPP tidak akan mencampuri atau ikut terdorong mengkritisi partai lain yg berbeda pandangan khususnya dg Partai Demokrat dan SBY. "Pidato SBY hendaknya ditangkap sebagai sinyal bhw keutuhan koalisi diperlukan dalam menjaga semangat pemerintahan, karena bagaimanapun partai koalisi telah dilibatkan didalam kabinet pemerintah SBY Boediono," ujarnya.
Langganan:
Postingan (Atom)






