Kamis, 03 Maret 2011

Berita Kriminal 1 (Di Mana Mubarak Sembunyi? )

JAKARTA (14/2)
Di mana Hosni Mubarak? Setelah mundur sebagai presiden Mesir pada Jumat pekan lalu, 11 Februari 2011, Mubarak diam-diam menghilang di balik panggung politik. Dia seolah lenyap.
Pertanyaan itu muncul saat seruan mengadili Mubarak kian gencar. Dia dianggap bertanggungjawab atas maraknya korupsi, dan pembunuhan para aktivis selama 30 tahun memerintah Mesir.

Aktivis lembaga Amnesty International di Jerman, Monika Lueke, siap menuntut Mubarak ke pengadilan bila dia datang ke negaranya. "Mubarak mewakili suatu sistem yang membuat banyak orang jadi korban penyiksaan, dan penganiayaan selama bertahun-tahun," kata Lueke seperti dikutip laman berita sify news.

Komisi HAM Parlemen Iran bahkan meminta Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengadili Mubarak. "Komisi HAM menyerukan PBB membentuk tim pencari fakta menyelidiki tindak kriminal Presiden Mesir yang tersingkir itu, dan membawanya ke pengadilan internasional yang adil," demikian pernyataan Komisi HAM Iran seperti dikutip stasiun berita State TV

Mubarak tampak mengikuti jejak sejawatnya dari Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali. Setelah lunglai menghadapi revolusi dari rakyatnya pada 14 Januari lalu, Ben Ali mengundurkan diri dan, bersama keluarganya, diam-diam kabur dari istana presiden, yang telah dia huni selama lebih dari 23 tahun.

Ben Ali kemudian pergi mengungsi ke Arab Saudi. Tadinya dia ingin ke Prancis, tapi ditolak pemerintah setempat. Hingga kini belum ada cerita dari Ben Ali, meski pemerintahan sementara Tunisia mengeluarkan perintah penangkapan dirinya. Ben Ali diduga telah menggangsir banyak harta negara selama berkuasa. 

Kisah Mubarak pun hampir mirip. Sejak diberitakan meninggalkan Istana Presiden di Kairo, Mubarak tak lagi terlihat. Bermacam spekulasi muncul. Apakah dia masih di Mesir, atau sudah ke luar negeri. Apakah lelaki dengan usia 82 tahun itu masih sehat, atau kesehatannya memburuk.

Kalangan pejabat Amerika Serikat (AS) percaya klaim dari kolega-kolega mereka di Mesir, bahwa Mubarak saat ini, tak kabur ke luar negeri. Dia ditengarai berada di Sharm El Sheikh. Berjarak sekitar 510 kilometer dari Kairo, kota itu menjadi tetirahan favorit bagi Mubarak. 

Menurut harian The Washington Post, selama lima tahun terakhir, Mubarak pasti ke kota ini untuk bersantai selama satu dua hari setiap pekan. Kadang, dia bisa lebih lama dari itu.

Tak seperti Kairo yang padat penduduk, Sharm el-Sheik hanya dihuni 35.000 jiwa. Bila menggunakan transportasi darat, seperti bus, perjalanan dari Kairo ke Sharm antara 6-8 jam, sedangkan bila dengan menggunakan pesawat hanya memerlukan waktu sekitar satu jam.

Wilayah pesisir yang menghadap Laut Merah itu berjuluk “Kota Perdamaian” karena sering menjadi tuan rumah konferensi perdamaian. Bahkan Mubarak pernah mengadakan pertemuan negara-negara Timur Tengah di rumah peristirahatannya di Sharm El Sheikh.

Dulunya, kota ini dikuasai oleh Israel usai Perang Enam Hari pada 1967. Pasca perundingan damai Mesir-Israel 1979, Sharm El Sheikh beserta kota-kota lain di Semenanjung Sinai kembali ke pangkuan Mesir.

Tempat ini kini dipenuhi oleh hotel berbintang lima, dan aneka paket pariwisata diantaranya menyelam di Laut Merah. Namun, pasca demonstrasi yang berhasil  menggulingkan Mubarak, daerah ini sepi turis dan terlihat terabaikan.

Hotel-hotel kosong penyewa, jalanan sepi mobil, dan toko-toko banyak yang tutup. Beberapa hotel bahkan menawarkan diskon gila-gilaan untuk memancing tamu. Tak seperti di Kairo, di Sharm el-Sheik, warga memuja Mubarak, dan menyatakan sedih Mubarak turun.

Melansir dari laman The Guardian, sepanjang jalan menuju rumah peristirahatan tepi Laut Merah milik Mubarak ditanami pohon palem indah. Sejumlah warga lokal mengungkapkan bahwa Mubarak bisa menginap di suatu hotel mewah, dan bermain golf dengan leluasa di lapangan milik sahabatnya, Hussein Salem.  

Rumah peristirahatannya bukan yang terbesar di daerah itu. Tapi tentunya yang teraman, dengan puluhan penjaga, dan anjing pelacak yang bersiaga 24 jam setiap harinya. Kesiagaan para penjaga itu kadang menjadi penanda apakah Mubarak berada di tempat atau tidak. Jika terlihat ratusan tentara berjaga di sepanjang jalan, maka bisa dipastikan Mubarak tengah beristirahat di sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar